Paradigma dalam disiplin intelektual adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).[1][2] Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktek yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual
Atau menurut paradigma saya, Paradigma dapat juga disetarakan dengan istilah prinsip yang mempengaruhi sikap dan reaksi terhadap sesuatu hal atau keadaan. Persoalannya "Apakah suatu paradigma sudah pasti tepat?" apakah kita tidak sebaiknya mempertimbangkan pula paradigma orang lain atau mempertimbangkan sudut pandang yang lain, tujuannya jika untuk saya pribadi adalah "Mudah-mudahan saya dapat memutuskan atau mengambil sikap atas sesuatu dengan lebih bijak dan sekali lagi mudah-mudahan menurunkan tingkat resiko dari apa yang telah saya putuskan nantinya".
Aduh kayaknya jadi bertele-tele yah? begini sajalah, mari kita pakai contoh dari kisah Semut dan Jangkrik-nya
Aesop
Paradigma Pertama
Coba perhatikan cuplikan singkat kisah Semut dan Jangkrik berikut:
Pada siang hari di akhir musim gugur, satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor Jangkrik yang kelaparan, dengan sebuah biola di tangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makan untuk dirinya.
"Apa!" teriak sang Semut dengan terkejut, "tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas?"
"Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan," keluh sang Jangkrik; "Saya sangat sibuk membuat lagu, dan sebelum saya sadari, musim panas pun telah berlalu."
Semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.
"Membuat lagu katamu ya?" kata sang Semut, "Baiklah, sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!" Kemudian semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang Jangkrik lagi.
Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya untuk bermain, Tapi di sini Semut selalu sibuk bekerja tanpa ada waktu untuk bermain, sedang si Jangkrik sibuk bermain, menari dan bernyanyi (sepertinya ideal untuk jadi si Semut yah?)
Paradigma Kedua
Paradigma yang kedua ini adalah paradigmanya para master bisnis online nih (maaf tanpa maksud apapun lhoh).
Hampir sama dengan cerita aslinya di atas (Paradigma Pertama), mengenai semut dan jangkrik, tentunya kita sudah tahu, dimana si semut selalu rajin bekerja untuk kepentingan Ratu dan koloninya, sedangkan si jangkrik bekerja untuk dirinya sendiri dan kemudian asyik bernyanyi.
Semut dan jangkrik bisa juga dimisalkan antara seorang pekerja keras dan seorang wirausaha. Semut setiap hari sibuk dan sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan semua koloni termasuk Ratu dan larva semut, bisa di ibaratkan semut seperti seorang pekerja atau buruh atau karyawan seperti kita, yang terus sibuk bekerja untuk memenuhi keuntungan atau memperkaya Ratu (Bos kita/owner). Semut akan terus bekerja sampai mati, tidak pernah ada waktu untuk bersenang-senang sama sekali.
Bagaimana dengan Jangkrik, dia akan bekerja untuk kebutuhannya sendiri, setelah itu dia akan menikmati waktu luangnya untuk bersenang-senang, bukankah begitu ? Jangkrik seperti seseorang yang bekerja untuk dirinya sendiri, tidak punya Bos.
Memang tidak mudah kita terjun menjadi seorang Internet Marketer apalagi jika kita tidak punya pengalaman apapun untuk berbisnis internet. Karena biasanya kita adalah seorang karyawan, atau pekerja. Mengapa karyawan, pekerja atau buruh tidak berpikiran mandiri,karena kalau itu terjadi maka Bos akan rugi besar. Maka bos akan membuat agar karyawannya selalu berpikiran sempit sehingga selalu tergantung pada tempatnya bekerja, dan akan terus bekerja untuk memperkaya bosnya.
Apakah Anda tidak ingin menjadi seperti seekor Jangkrik yang bisa menikmati hidupnya sendiri tanpa ada gangguan dari Bos?
(Ideal juga menjadi Si Jangkrik kan?)
Dari kedua paradigma di atas, sekali lagi bukannya bermaksud menyarankan atau memprofokasi untuk pro Semut atau sebaiknya pro Jangkrik , di sini Saya hanya mengajak rekan-rekan dan saya juga untuk selalu berusaha menggali semua "masalah" dari banyak sudut pandang, selebihnya cuekin ajah postingan ini, bikin pening kepala saja soalnya.
Your turn to come to mine :D
Irfan TEFL